"Cinta adalah anugerah
terasa indah ketika ia tiba
tapi jangan terlalu ber-asa
karena bisa jadi dia bukan untuk kau punya"

Cerita dalam blog ini fiktif belaka...bila ada kesamaan nama, tempat dan alamat hanya kebetulan semata...
SELAMAT MEMBACA.....

Sabtu, 21 Januari 2012

Cintaku Hanyut di Sungai Rangkui

SENJA baru saja meninggalkan bumi dan pekatnya malam mulai menampakkan diri. Langit biru telah bersembunyi bertukar gelap penuh misteri. Beberapa bintang mulai jadi pengganti mentari. Suara-suara pun sudah riuh bernyanyi. Deru kendaran lalu lalang di sana sini. Tapi aku tak peduli. Bahkan tak ada niat untuk beranjak pergi kendati hati sangat terasa perih. “Sudahlah, mulai detik ini kita sudahi saja kisah cinta kita. Mustahil rasanya meneruskan langkah hati tanpa restu dari mamaku. Aku tak kuat dan aku tak bisa,” kata Tiana kepada ku tadi sore.
Aku terperanjat karena tak menyangka sebelumnya bila gadis yang telah ku pacari selama satu setengah tahun itu akan mengucapkan kata putus di hadapanku. Kata-katanya masih terngiang jelas di telingaku. “Sebaiknya kita memang harus berhenti. Tak ada gunanya meneruskan perjalanan ini. Aku lelah dan hari ini adalah hari terakhir ultimatum mama agar aku segera menjauhimu,” sambungnya.
Memang aku sempat membela diri. Ku coba bertanya tentang salah dan dosaku hingga ia tega memutus cinta. “Mama tak menyetujui hubungan kita berlanjut. Ia sangat keberatan bila kau mencintaiku,” jawab Tiana.
“Tapi apa sebabnya mamamu tidak setuju. Bukankah cinta ini antara kau dan aku. Apakah ada yang salah dengan semua ini,” kejarku. Tapi tak ada jawaban. “Tiana, ikuti kata hatimu. Ketulusan cinta tak bisa dihalangi oleh kebencian emosi dari orang lain. Jika kau memang mecintaiku tolong jangan dengarkan suara yang lain. Katakan itu dan tak usah dustai dirimu karena aku tahu di sudut matamu terpancar isi hatimu yang sesungguhnya,” kataku setengah meminta.
Tapi Tiana cuma terdiam. Tetap tak ada jawaban. Sepatah kata pun tak keluar dari mulutnya. Malah ia kemudian beranjak pergi meninggalkan aku sendirian di pinggiran Sungai Rangkui, sebuah sungai kecil yang membelah Kota Pangkalpinang, Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Aku pun tak berusaha mengejarnya. Ku biarkan Tiana berlalu dari hadapanku. Tapi dadaku terasa bergemuruh karena tak percaya bila aku dan Tiana tak lagi bersatu. Ragaku seakan rapuh dan lidahku seperti keluh. Dalam galau kemudian aku teringat pesan ibuku sesaat sebelum aku pamit kepadanya untuk menemui Tiana di pinggiran Sungai Rangkui tadi sore. “Nak, cinta memang tak bertepi tapi harus diingat bahwa orang lain bisa saja membuat batas agar cinta itu tak bisa menggelinding jauh,” kata ibu di beranda rumah selepas shalat Ashar.
Ucapan ibu memang sempat mengagetkanku. Sepertinya ia tahu bahwa akan terjadi sesuatu antara aku dan Tiana. “Tidak bu. Aku yakin tak ada orang yang mampu membuat batas itu. Cintaku pada Tiana ibarat samudera luas yang tak berujung,” sanggahku.
Mendengar jawabanku ibu cuma tersenyum. “Samudera memang tak berujung. Tapi sadarkah kamu ada gulungan ombak di tengah sana? Jangan pernah bermimpi mengarungi samudera luas dengan menggunakan perahu yang kecil,” lanjut ibuku. “Apakah salah perahu kecil berlayar di tengah samudera luas, bu? Bukankah setiap orang bebas menggunakan perahu apapun untuk mengarungi samudera. Sama seperti aku dan Tiana. Aku merasa berhak mencintainya karena aku tahu ia pun mencintaiku,” kataku berusaha meyakinkan ibu dengan bahasa yang santun.
Ibu pun kembali tersenyum. Setelah diam sejenak ia kemudian berujar. “Kamu tidak salah, Nak. Hanya saja berlayar menggunakan perahu kecil di tengah samudera luas sangat beresiko. Itulah yang ditakutkan orang tua Tiana. Kamu harus tahu bahwa Tiana bukan cuma milikmu sendiri. Ada orang lain yang sangat mencintainya yaitu kedua orang tua beserta lingkungan di sekitar keluarganya. Mereka tentu tak rela Tiana tenggelam di tengah samudera cinta yang tak berujung. Mungkin saja saat ini mereka telah menyiapkan sebuah kapal pesiar untuk Tiana agar ia tak karam di tengah lautan,” kata ibuku.
Aku terdiam mendengar jawaban ibu. Tak sanggup lagi diriku untuk terus meyakinkannya. Lidahku terasa keluh. “Hapus mimpimu untuk mengarungi samudera itu. Bangunlah segera dan sadar. Mungkin perahu kecilmu hanya sanggup mengarungi pinggiran Sungai Rangkui,” sambung ibuku sedikit bergurau. Pesan ibu yang melintasi pikiranku tiba-tiba terhenti bersamaan dengan bunyi ponsel dari saku celana jeans yang ku kenakan. “Tapi Ibu benar. Aku bukanlah kapal pesiar yang sanggup menghadang ombak di tengah samudera luas. Ke tujuan belum tentu sampai tapi tenggelam sudah pasti,” batinku sembari meraih handphone-ku. Ku lihat sebuah pesan dari ibu yang memintaku untuk segera pulang karena malam kian larut.(*)

Selasa, 24 Mei 2011

Cinta Jurnalis (Bagian Pertama)

K
akiku baru saja menapaki anak tangga kantor redaksi. Teriknya matahari yang bersinar siang itu memaksaku mempercepat langkah untuk berteduh di teras kantor. Ku seka peluh yang menyimbahi mukaku dengan dengan ujung lengan kanan kemejaku. Akibatnya kemeja biru yang terakhir ku kenakan saat lebaran Idul Fitri tahun lalu itu pun menjadi sedikit dekil. “Ah....tak masalah, bila dicuci... nanti juga bersih lagi,” gumamku mencoba menghibur diri seolah menyesal karena telah mengotori bajuku.
Namun ragaku terasa sedikit nyaman. Rasa gerah mulai berkurang. Aku pun segera masuk ke dalam kantor untuk meng-adem-kan tubuh dengan AC. Namun tiba-tiba jantungku berdetak cepat sesaat setelah ku pandangi undangan pernikahan berwarna biru yang tertempel di papan pemberitahuan loby kantor persis di sebelah receptionist. Tak saja bentuk undangannya yang cantik karena dibingkai garis indah berwarna kuning keemasan, melainkan juga sesosok nama yang tertulis dalam undangan itu yang membuatkku seakan hilang semangat hidup. Lantas ku dekati papan pengumuman tersebut untuk mengetahui lebih jelas isinya.
“DAR-SI-TA,” ejaku perlahan pada undangan bersampul biru tersebut seraya berharap bila wanita bernama lengkap Darsita Rahayu Putri yang akan menikah sepekan lagi itu bukanlah fatner kerjaku. Namun harapan itu pupus seketika setalah kusadari bila tak ada nama lain yang serupa dengan nama wanita cantik berjilbab di kota ku itu  selain dara berkulit putih lulusan perguruan tinggi terkemuka tersebut. Dalam perasaan galau aku pun terus berusaha menyakinkan batinku bila Darsita memang satu-satunya nama wartawati cantik yang ada di kotaku.
“Ini pasti dia,” batinkku pelan hingga membuat semangat kerjaku hilang seketika. Bahkan keinginanku yang sejak awal menggebuh-gebuh untuk segera berada di depan komputer guna menuangkan hasil investigasi eksklusif tentang kasus korupsi yang diduga melibatkan seorang wakil rakyat ke dalam sebuah tulisan sirna seketika. Figura hidupku seakan retak hingga membuat memori indahku bersama Darsita yang telah ku bingkai selama ini menjadi berantakan.
“Darsita akan menikah”, gumamku kemudian. Tiba-tiba perasaanku menjadi lain. Jantungku semakin berdetak cepat. Darah ku pun seakan berhenti mengalir. Paru-paruku terasa sesak hingga membuatku sulit bernafas. Ingin aku menangis namun hatiku melarang. Dunia seperti menjadi gelap dalam penglihatanku. Rasa lelah usai liputan seharian pun tak lagi kuhiraukan. Ku coba bertahan dalam kegaulauan hingga ku raih sebatang rokok filter dari dalam saku celana jeansku dan ku sulut cepat dengan sebatang korek api. Asapnya mengepul setelah rokok yang baru saja ku beli dari pedagang asongan itu ku hisap dalam-dalam. Bersamaan dengan itu pikiranku melayang dan menerawang menembus cakrawala masa silam. Ingatanku seakan ingin memutar kembali memori tiga tahun lalu ketika pertama kali aku mengenal Darsita, perempuan sederhana anak pertama dari tiga bersaudara yang menjadi fatnerku saat kami memulai kerja menjadi kuli tinta. Meski tidak bekerja pada satu perusahaan namun kala liputan kami sering bersama. Darsita adalah wartawati sebuah majalah mingguan sedangkan aku wartawan surat kabar harian. Meski demikian aku dan Darsita lebih sering liputan bersama. Tak jarang aku diajak untuk menemaninya bila ia secara mendadak ditugaskan pimpinan meliput sebuah perisitiwa. Ajakanku pun jarang pula ia tolak ketika aku minta ditemani melakukan sebuah liputan.
 ”Ah, mungkin karena kami masih sama-sama baru menjadi wartawan sehingga Darsita selalu ingin bersamaku,” batinku ketika itu sembari berusaha menepis rasa penasaran yang mulai menyelinap dalam sukmaku.
Darsita adalah gadis sempurna bagiku. Banyak keistimewaan dalam dirinya yang sebelumnya tak pernah ku temui pada wanita lain. Tak cuma cantik secara  lahir, tutur kata dan perangainya pun sangatlah santun. Darsita memang pribadi yang baik. Ia wanita yang lembut, supel dan mudah bergaul. Maka tak heran jika Darsita memiliki banyak teman karena disukai semua orang. Bahkan banyak yang bertanya tentang Darsita kepada ku ketika suatu hari ia berhalangan masuk kerja. “Beruntung sekali pria yang bisa mempersunting dirimu Darsita,” gumamku pelan berusaha menahan kecewa.         
“Eh…Lis, di tempat ini kan dilarang merokok,” tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku. Ku cari sumber suara itu hingga ku dapatkan sesosok manusia kerempeng yang bernama Darso telah berada di sampingku. Dari mimik wajahnya ia seperti sedang kebingungan menatapku. “Itu coba lihat tulisannya,” sambung cleaning service di kantorku itu seraya mengarahkan jari telunjuknya pada selembar kertas yang tertempel pada dinding kantor tak jauh dariku.
“Oh…maaf bung, saya lupa,” jawabku sekenanya sembari membalikkan punggung melihat tulisan dilarang merokok yang dimaksud Darso. Darso pun berlalu. Aku kemudian berjalan perlahan ke arah anak tangga lantai dua dengan maksud untuk duduk beristirahat. Namun belum sempat aku meletakkan pantatku pada tangga dimaksud tiba-tiba sebuah suara kembali memanggilku.
“Lis…Jurnalis…dipanggil Bang Pram tuh,” Aku pun menengok ke arah suara yang memanggil namaku. Ku lihat Dery, sekretaris redaksi melambaikan tangan kepadaku. Bang Pram yang dimaksud Dery adalah Pramantha Nugraha, Kepala Peliputan Berita di kantorku.
“Sekarang?,” tanyaku padanya.
”Iya, katanya ada yang mau ditanyain sama kamu,” jawab Dery. Ku urungkan niatku untuk duduk santai di anak tangga yang biasanya setiap hari ku lakukan sehabis liputan. Aku pun kemudian masuk ruang redaksi untuk menemui Bang Pram yang telah menungguku di meja kerjanya. (bersambung)