"Cinta adalah anugerah
terasa indah ketika ia tiba
tapi jangan terlalu ber-asa
karena bisa jadi dia bukan untuk kau punya"

Cerita dalam blog ini fiktif belaka...bila ada kesamaan nama, tempat dan alamat hanya kebetulan semata...
SELAMAT MEMBACA.....

Selasa, 24 Mei 2011

Cinta Jurnalis (Bagian Pertama)

K
akiku baru saja menapaki anak tangga kantor redaksi. Teriknya matahari yang bersinar siang itu memaksaku mempercepat langkah untuk berteduh di teras kantor. Ku seka peluh yang menyimbahi mukaku dengan dengan ujung lengan kanan kemejaku. Akibatnya kemeja biru yang terakhir ku kenakan saat lebaran Idul Fitri tahun lalu itu pun menjadi sedikit dekil. “Ah....tak masalah, bila dicuci... nanti juga bersih lagi,” gumamku mencoba menghibur diri seolah menyesal karena telah mengotori bajuku.
Namun ragaku terasa sedikit nyaman. Rasa gerah mulai berkurang. Aku pun segera masuk ke dalam kantor untuk meng-adem-kan tubuh dengan AC. Namun tiba-tiba jantungku berdetak cepat sesaat setelah ku pandangi undangan pernikahan berwarna biru yang tertempel di papan pemberitahuan loby kantor persis di sebelah receptionist. Tak saja bentuk undangannya yang cantik karena dibingkai garis indah berwarna kuning keemasan, melainkan juga sesosok nama yang tertulis dalam undangan itu yang membuatkku seakan hilang semangat hidup. Lantas ku dekati papan pengumuman tersebut untuk mengetahui lebih jelas isinya.
“DAR-SI-TA,” ejaku perlahan pada undangan bersampul biru tersebut seraya berharap bila wanita bernama lengkap Darsita Rahayu Putri yang akan menikah sepekan lagi itu bukanlah fatner kerjaku. Namun harapan itu pupus seketika setalah kusadari bila tak ada nama lain yang serupa dengan nama wanita cantik berjilbab di kota ku itu  selain dara berkulit putih lulusan perguruan tinggi terkemuka tersebut. Dalam perasaan galau aku pun terus berusaha menyakinkan batinku bila Darsita memang satu-satunya nama wartawati cantik yang ada di kotaku.
“Ini pasti dia,” batinkku pelan hingga membuat semangat kerjaku hilang seketika. Bahkan keinginanku yang sejak awal menggebuh-gebuh untuk segera berada di depan komputer guna menuangkan hasil investigasi eksklusif tentang kasus korupsi yang diduga melibatkan seorang wakil rakyat ke dalam sebuah tulisan sirna seketika. Figura hidupku seakan retak hingga membuat memori indahku bersama Darsita yang telah ku bingkai selama ini menjadi berantakan.
“Darsita akan menikah”, gumamku kemudian. Tiba-tiba perasaanku menjadi lain. Jantungku semakin berdetak cepat. Darah ku pun seakan berhenti mengalir. Paru-paruku terasa sesak hingga membuatku sulit bernafas. Ingin aku menangis namun hatiku melarang. Dunia seperti menjadi gelap dalam penglihatanku. Rasa lelah usai liputan seharian pun tak lagi kuhiraukan. Ku coba bertahan dalam kegaulauan hingga ku raih sebatang rokok filter dari dalam saku celana jeansku dan ku sulut cepat dengan sebatang korek api. Asapnya mengepul setelah rokok yang baru saja ku beli dari pedagang asongan itu ku hisap dalam-dalam. Bersamaan dengan itu pikiranku melayang dan menerawang menembus cakrawala masa silam. Ingatanku seakan ingin memutar kembali memori tiga tahun lalu ketika pertama kali aku mengenal Darsita, perempuan sederhana anak pertama dari tiga bersaudara yang menjadi fatnerku saat kami memulai kerja menjadi kuli tinta. Meski tidak bekerja pada satu perusahaan namun kala liputan kami sering bersama. Darsita adalah wartawati sebuah majalah mingguan sedangkan aku wartawan surat kabar harian. Meski demikian aku dan Darsita lebih sering liputan bersama. Tak jarang aku diajak untuk menemaninya bila ia secara mendadak ditugaskan pimpinan meliput sebuah perisitiwa. Ajakanku pun jarang pula ia tolak ketika aku minta ditemani melakukan sebuah liputan.
 ”Ah, mungkin karena kami masih sama-sama baru menjadi wartawan sehingga Darsita selalu ingin bersamaku,” batinku ketika itu sembari berusaha menepis rasa penasaran yang mulai menyelinap dalam sukmaku.
Darsita adalah gadis sempurna bagiku. Banyak keistimewaan dalam dirinya yang sebelumnya tak pernah ku temui pada wanita lain. Tak cuma cantik secara  lahir, tutur kata dan perangainya pun sangatlah santun. Darsita memang pribadi yang baik. Ia wanita yang lembut, supel dan mudah bergaul. Maka tak heran jika Darsita memiliki banyak teman karena disukai semua orang. Bahkan banyak yang bertanya tentang Darsita kepada ku ketika suatu hari ia berhalangan masuk kerja. “Beruntung sekali pria yang bisa mempersunting dirimu Darsita,” gumamku pelan berusaha menahan kecewa.         
“Eh…Lis, di tempat ini kan dilarang merokok,” tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku. Ku cari sumber suara itu hingga ku dapatkan sesosok manusia kerempeng yang bernama Darso telah berada di sampingku. Dari mimik wajahnya ia seperti sedang kebingungan menatapku. “Itu coba lihat tulisannya,” sambung cleaning service di kantorku itu seraya mengarahkan jari telunjuknya pada selembar kertas yang tertempel pada dinding kantor tak jauh dariku.
“Oh…maaf bung, saya lupa,” jawabku sekenanya sembari membalikkan punggung melihat tulisan dilarang merokok yang dimaksud Darso. Darso pun berlalu. Aku kemudian berjalan perlahan ke arah anak tangga lantai dua dengan maksud untuk duduk beristirahat. Namun belum sempat aku meletakkan pantatku pada tangga dimaksud tiba-tiba sebuah suara kembali memanggilku.
“Lis…Jurnalis…dipanggil Bang Pram tuh,” Aku pun menengok ke arah suara yang memanggil namaku. Ku lihat Dery, sekretaris redaksi melambaikan tangan kepadaku. Bang Pram yang dimaksud Dery adalah Pramantha Nugraha, Kepala Peliputan Berita di kantorku.
“Sekarang?,” tanyaku padanya.
”Iya, katanya ada yang mau ditanyain sama kamu,” jawab Dery. Ku urungkan niatku untuk duduk santai di anak tangga yang biasanya setiap hari ku lakukan sehabis liputan. Aku pun kemudian masuk ruang redaksi untuk menemui Bang Pram yang telah menungguku di meja kerjanya. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar